makalah konservasi dan rehabilitasi sumberdaya perikanan


TUGAS MAKALAH
DOSEN PENGAMPU
“Rudy Alfiyan Spi., MP”



Oleh :
Vikram Aris Munandar (161110829)

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
PONTIANAK
2018


KATA  PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wataala, karena berkat rahmat-Nya penulis bisa menyelesaikan makalah yang berjudul ”STUDY KELAYAKAN PERAIRAN SUNGAI  MANDOR SEBAGAI LOKASI BUDIDAYA  PERIKANAN AKIBAT AKTIVITAS TAMBANG EMAS” . Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Perikanan .
PenuLis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis  harapkan demi sempurnanya makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi mahasiswa dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
                                                                                          
                                                                                      Pontianak,18 November 2018

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGABTAR .......................................................................................  i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
A.    Latar Belakang ......................................................................................  1
B.     Rumusan Masalah.................................................................................. 2
C.     Tujuan.................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................... 4
A.    Merkuri.................................................................................................. 4
B.     Pencemaran Merkuri .............................................................................  5
C.     Dampak Pencemaran Merkuri................................................................ 7
D.    Pengaruh Toksisitas Merkuri (Hg) Pada Ikan........................................ 9
E.     Kandungan Merkuri Yang Ada Di Perairan Sungai Mandor................ 11
BAB III PENUTP............................................................................................... 12
A.    KESIMPULAN...................................................................................   12

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................  13




BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Salah satu kekayaan alam yang dimilki oleh Negara Indonesia adalah pertambangan, negara sebagai kekuasaan tertinggi, telah memberikan kewenangan kepada pemerintah dan/atau pemerintah daerah untuk menyelenggarakan penguasaan, pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam di bidang pertambangan. Hadirnya pertambangan memberikan dampak positif bagi negara, diantaranya meningkatkan pendapatan negara, menciptakan lapangan pekerjaan, mempercepat pembangunan nasional. Disatu sisi pertambangan juga dapat  menimbulkan permasalahan lingkungan hidup, diantaranya kerusakan bentang alam, erosi, sedimentasi, hilangnya kesuburan tanah, dan pencemaan air. ( Ricardo, 2016 ).
Penambangan Emas tanpa Izin adalah kegiatan pertambangan yang terjadi di hampir semua daerah di Kalimantan Barat termasuk Kabupaten Landak dan tidak mempunyai izin atau  ilegal. Kegiatan ini merupakan kegiatan penambangan secara tradisional yang biasanya dilakukan oleh masyarakat di tepi sungai. Inilah yang terjadi pada awalnya, namun sekarang hal ini bisa dilakukan dengan mesin jet. Secara umum para penambang liar menggunakan salah satu bahan kimia yang berbahaya yaitu Merkuri sebagai pengikat emas. Merkuri inilah yang menjadi kandungan paling berbahaya yang sampai sekarang masih digunakan penambang untuk proses penambangan.
Para penambang emas di Kalbar memang terbiasa menggunakan air raksa atau merkuri untuk memisahkan emas dari pasir dan tanah. Sudah turun-temurun. Bahkan menurut sejarah, penggunaan merkuri sudah dilakukan sejak sebelum jaman kemerdekaan. Namun, puncaknya terjadi pasca krisis moneter dimana hampir 20 ribu orang beralih profesi menjadi penambang emas.
Minimnya informasin  mengenai dampak pencemaran merkuri terhadap  ikan di perairan sungai Mandor . Oleh karena itu perlu  dilakukan penelitian  untuk mengetahui kualitas ikan yang ada di perairan Sungai Mandor  terhadap kemungkinan adanya kontaminasi logam berat khususnya merkuri pada ikan dari hasil pengambilan di perairan Sungai Mandor. Pada penelitian kali ini pemeriksaan konsentrasi merkuri dilakukan pada ikan yang mudah didapatkan di perairan Sungai Mandor.
berdasarkan analisis cemaran merkuri pada air dan udang di Sungai Mandor Kabupaten Landak dilakukan pengukuran merkuri pada air permukaan dari hulu hingga ke hilir sungai Mandor dengan pengambilan 5 titik sampel dan konsentrasi merkuri semakin meningkat dari hulu hingga hilir sungai ( Kadaria et al, 2017 ).

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana proses yang terjadi sehingga merkuri bisa  mencemari perairan sungai mandor ?
2.      Apakah  perairan sungai mandor layak untuk budidaya perikanan?



C.     TUJUAN
1.      Memberikan informasi kepada masyarakat Mandor bahwa perairan sungai mandor tercemar oleh merkuri.
2.      Tujuan dibuat makala ini adalah untuk mengetahui perairan sungai mandor layak atau tidak untuk budidaya perikanan.














BAB II
PEMBAHASAN
A.    Merkuri
Logam merkuri secara alamiah terdapat di alam bahkan di perairan, namun kadarnya masih dapat ditoleransi oleh organisme yang hidup di dalamnya. Kadar merkuri dalam suatu perairan akan meningkat apabila limbah yang mengandung merkuri masuk ke perairan dan berlangsung cukup lama, dan dapat membahayakan perairan itu sendiri (Tilaar, 2014). Sebagian besar merkuri yang terdapat di alam merupakan hasil sisa industri yang jumlahnya mencapai ± 10.000 ton setiap tahun. Penggunaan merkuri sangat luas, terdapat ± 3.000 jenis kegunaan dalam industri salah satunya adalah untuk pertambangan (Hadi, 2013).
Proses pengolahan emas masih secara tradisional, yaitu dengan proses amalgamasi menggunakan merkuri (Usman, 200). Merkuri digunakan secara luas untuk mengekstrak emas dari bijihnya. Ketika merkuri dicampur dengan bijih tersebut, merkuri akan membentuk amalgam dengan emas atau perak. Untuk mendapatkan emas dan perak, amalgam harus dibakar untuk menguapkan merkurinya. Para penambang emas tradisional menggunakan merkuri untuk menangkap dan memisahkan butir – butir emas dari butir – butir batuan. Endapan Hg ini disaring menggunakan kain untuk mengendapkan sisa emas. Endapan yang tersaring diremas – remas dengan tangan. Air sisa penambangan yang mengandung merkuri dibiarkan mengalir begitu saja ke sungai (Hadi, 2013).
Logam berat mempunyai sifat yang mudah mengikat bahan organik, mengendap di dasar perairan dan bersatu dengan sedimen sehingga kadar logam berat dalam sedimen lebih tinggi dibandingkan dengan dalam air (Dai, 2013). Laju suspensi sedimen lewat sungai – sungai menyebabkan tingkat sedimentasi dan kekeruhannya sangat tinggi. Laju sedimentasi menyebabkan kerusakan berbagai habitat seperti, terumbu karang dan mangrove yang berdampak pada menurunnya keanekaragaman dan kekayaan sumberdaya hayati atau biota yang hidup disekitar kawasan tersebut termasuk ikan (Simange dkk., 2010). Adanya kemampuan mengakumulasi merkuri di dalam tubuh biota laut dapat membahayakan kehidupan biota yangbersangkutan maupun biota lainnya misalnya melalui rantai makanan atau food chain (Budiono, 2003).
B.     Pencemaran Merkuri
Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Danau, sungai, lautan dan air tanah adalah bagian penting dalam siklus kehidupan manusia dan merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Selain mengalirkan air juga mengalirkan sedimen dan polutan. Berbagai macam fungsinya sangat membantu kehidupan manusia. Pemanfaatan terbesar danau, sungai, lautan dan air tanah adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya berpotensi sebagai objek wisata. Pencemaran air di perairan Sungai Mandor  sebagian besar diakibatkan oleh aktifitas manusia yang meninggalkan limbah pemukiman, pertambangan.
Pencemaran logam berat menjadi ancaman yang ada di perairan.  Salah satu pencemaran logam berat yang dapat menurunkan kualitas perairan adalah penggunaan logam berat merkuri akibat aktivitas manusia yang dilakukan di perairan sungai Mandor. Logam berat merkuri merupakan logam berat yang sering digunakan dalam proses penambangan emas dengan metode amalgamasi, dimana logam berat merkuri dapat mengikat bijih emas dan dapat memisahkan bijih emas dengan logam-logam lainnya. Sungai merupakan salah satu media yang menjadi dampak akibat pencemaran logam berat merkuri, dimana sungai dapat menjadi tempat pembuangan limbah dari sisa pengelolaan emas yang dilakukan oleh masyarakat sekitar maupun penambang lainnya.  Lemahnya pengawasan terhadap penanganan (pembuangan) limbah dari sisa pengolahan mempunyai potensi untuk menciptakan lingkungan yang tercemar.  Upaya pengelolaan emas yang dilakukan oleh masyarakat tidak diimbangi dengan pemeliharaan lingkungan di sekitar daerah penambangan emas tersebut, khususnya daerah aliran sungai (DAS).  Akibat dari penggunaan logam berat merkuri tersebut tidak hanya menimbulkan pencemaran air sungai saja, akan tetapi bagian dari sungai seperti sedimen dan organisme yang hidup di dalamnya ikut tercemar akibat toksin/racun yang terkandung dalam logam berat merkuri tersebut. Kehadiran logam berat tetap mengkhawatirkan, terutama yang bersumber dari Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI), di mana logam berat banyak digunakan sebagai bahan baku maupun sebagai bahan penolong. Sifat beracun dan berbahaya dari logam berat ditunjukan oleh sifat fisik dan kimia. Keracunan logam merkuri telah dikenal cukup lama dalam era tahun 1960 tercatat beberapa peristiwa keracunan merkuri diseluruh dunia.
keberadaan merkuri dalam tata lingkungan selalu menjadi topik yang selalu hangat untuk dibahas. Pembahasan mengenai tingkah laku merkuri dalam tubuh biasanya tidak terlepas dari senyawa merkuri yang mencemari lingkungan.
Senyawa merkuri tersebut yaitu :
1.   Senyawa merkuri an-organik termasuk logam merkuri
2.   Senyawa akil-merkuri yang mempunyai struktur hidrokarbon
      rantai  lurus
3.   Senyawa aril-merkuri dengan struktur yang mengandung cicin     
      hidrokarbonaromatik.
C.    Dampak Pencemaran Merkuri
Penceramaran merkuri pada pengolahan emas diduga terjadi pada saat pencampuran merkuri ke dalam bubur batu yaitu sekitar satu sendok unsur merkuri ke dalam 20 liter bubur batu. Unsur merkuri akan menangkap biji emas dan memisahkannya dari air dan bubur batu. Unsur merkuri 13,5 kali lebih berat dari air sehingga selalu mengendap. Jika ada merkuri yang larut dalam air maka limbahnya yang disebut tailing atau sisa tambang maka akan mencemari lingkungan. Para penambang yang bertanggung jawab biasanya mengumpulkan tailing ini pada suatu bak penampung (reservoir) untuk diendapkan sebelum dilepas ke lingkungan. Bak penampungan dapat dirancang secara khusus agar endapannya dapat diambil dan dikumpulkan kembali kemudian dicor dengan semen. JIka ditambahkan belerang, zat pengendap (tawas), zat penyerap (arang aktif, zeolit atau lainnya) maka limbah yang lepas ke lingkungan menjadi lebih kecil. Kekhawatiran masih akan terjadi jika ada merkuri yang larut. Namun demikian, kelarutan merkuri dalam air sangat kecil yaitu kalau 1 ton merkuri dibuang ke dalam air maka yang larut dalam air hanya 0,06 g (Clever et al., 1985), dengan demikian pada air sungai yang mengalir deras maka konsentrasi merkuri makin encer sehingga dapat dipahami bahwa pencemaran merkuri di Sungai Teunom masih diambang batas toleransi sebagaimana dilaporkan oleh peneliti dari Universitas Syiah Kuala yang telah dijelaskan sebelumnya di bagian pendahuluan. Namun lain halnya jika unsur merkuri mencemari air laut maka kelarutan merkuri meningkat bilamana tersedia oksigen terlarut yang banyak, kadar garam yang tinggi dan kurang cahaya matahari (gelap) sebagaimana dilaporkan oleh Amyot et al. (2005).
Peneliti menyimpulkan bahwa pencemaran merkuri dapat tercegah karena merkuri dalam bentuk unsur yang sukar larut (Straaten, 2000). Banyak juga yang menduga pada pengolahan emas sisa merkuri dibuang begitu saja ke lingkungan, tapi hal itu kurang realistis karena sisa merkuri masih dapat dimanfaatkan lagi oleh para penambang apalagi harganya cukup mahal. Penceramaran merkuri pada pengolahan emas diduga terjadi pada saat pencampuran merkuri ke dalam bubur batu yaitu sekitar satu sendok unsur merkuri ke dalam 20 liter bubur batu. Unsur merkuri akan menangkap biji emas dan memisahkannya dari air dan bubur batu. Unsur merkuri 13,5 kali lebih berat dari air sehingga selalu mengendap. Jika ada merkuri yang larut dalam air maka limbahnya yang disebut tailing atau sisa tambang maka akan mencemari lingkungan. Para penambang yang bertanggung jawab biasanya mengumpulkan tailing ini pada suatu bak penampung (reservoir) untuk diendapkan sebelum dilepas ke lingkungan. Bak penampungan dapat dirancang secara khusus agar endapannya dapat diambil dan dikumpulkan kembali kemudian dicor dengan semen. JIka ditambahkan belerang, zat pengendap (tawas), zat penyerap (arang aktif, zeolit atau lainnya) maka limbah yang lepas ke lingkungan menjadi lebih kecil. Kekhawatiran masih akan terjadi jika ada merkuri yang larut. Namun demikian, kelarutan merkuri dalam air sangat kecil yaitu kalau 1 ton merkuri dibuang ke dalam air maka yang larut dalam air hanya 0,06 g (Clever et al., 1985), dengan demikian pada air sungai yang mengalir deras maka konsentrasi merkuri makin encer sehingga dapat dipahami bahwa pencemaran merkuri di Sungai Teunom masih diambang batas toleransi .
D.    Pengaruh Toksisitas Merkuri (Hg) Pada Ikan
Pengaruh langsung pollutan (terutama pestisida) terhadap ikan biasa dinyatakan sebagai lethal (akut), yaitu akibat-akibat yang timbul pada waktu kurang dari 96 jam atau sublethal (kronis), yaitu akibat-akibat yang timbul pada waktu lebih dari 96 jam (empat hari). Sifat toksis yang lethal dan sublethal dapat menimbulkan efek genetik maupun teratogenik terhadap biota yang bersangkutan. Pengaruh lethal disebabkan gangguan pada saraf pusat sehingga ikan tidak bergerak atau bernapas akibatnya cepat mati. Pengaruh sub lethal terjadi pada organ-organ tubuh, menyebabkan kerusakan pada hati, mengurangi potensi untuk perkembangbiakan, pertumbuhan dansebagainya. Seperti peristiwa yang terjadi di Jepang, dimana penduduk disekitar teluk Minamata keracunan methyl merkuriakibat hasil buangan dari sutu pabrik plastik. Methyl merkuri yang terdapat dalam ikan termakan oleh penduduk disekitar teluk tersebut. Ikan-ikan yang mati disekitar teluk Minamata mempunyai kadar methyl merkuri sebesar 9 sampai 24 ppm.
Faktor-faktor yang berpengaruh di dalam proses pembentukan methyl merkuri adalah merupakan faktor-faktor lingkungan yang menentukan tingkat keracunannya. Merkuri yang diakumulasi dalam tubuh hewan air akan merusak atau menstimuli sistemen zimatik, yang berakibat dapat menimbulkan penurunan kemampuan adaptasi bagihewan yang bersangkutan terhadap lingkungan yang tercemar tersebut. Pada ikan, organyang paling banyak mengakumulasi merkuri adalah ginjal, hati dan lensa mata.
Toksisitas logam-logam berat yang melukai insang dan struktur jaringan luar lainnya, dapat menimbulkan kematian terhadap ikan yang disebabkan oleh prosesa noxemia, yaitu terhambatnya fungsi pernapasan yakni sirkulasi dan eksresi dari insang.Unsur-unsur logam berat yang mempunyai pengaruh terhadap insang adalah timah, seng,besi, tembaga, kadmium dan merkuri. Percobaan yang dilakukan terhadap ikan Carasiusauratus menunjukkan bahwa urut-urutan penyerapan logam berat oleh chemoreceptor (taste bund) dari ikan adalah merkuri, tembaga, seng, dan timah.
Pengaruh pencemaran merkuri terhadap ekologi bersifat jangka panjang, yaitu meliputi kerusakan strukturkomunitas, keturunan, jaringan makanan, tingkah laku hewan air, fisiologi, resistensi maupun pengaruhnya yang bersifat sinergisme. Sedang pengaruhnya yang bersifat linier terjadi pada tumbuhan air, yaitu semakin tinggi kadar merkuri semakin besar pengaruh racunnya. Perbedaan derajad toksisitas logam berat terhadap berbagai jenis biota laut dapatditunjukkan oleh percobaan yang dilakukan Schweiger terhadap beberapa jenis ikan(antara lain trout dan carp) yang ternyata memperlihatkan tingkat sensitifitas yangberbeda-beda dari masing-masing jenis ikan tersebut.
E.     Kandungan Merkuri Yang Ada Di Perairan Sungai Mandor
Kadar merkuri di sungai Mandor telah mencapai 8,977 mg/l sangat jauh diatas baku mutu yang ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air dimana kadar Hg maksimum yang diziinkan untuk berada dalam badan air adalah 0,005 mg/l (untuk kriteria air kelas 4). (sumber: Liputan6.com).














BAB III
PENUTUP

A.   KESIMPULAN
1.      Penambangan emas merupakan salah satu kegiatan yang dapat menyebabkan pencemaran perairan sungai Mandor.
2.      limbah yang di hasilkan limbah (PETI) menyebabkan tercemarnya perairan akibat proses pengolahan emas yang masih secara tradisional dengan proses amalgamasi menggunakan merkuri.
3.      Kandungan merkuri di perairaan sungai Mandor  mencapai 8,977 mg/l, dinyatakan tidak layak sebagai tempat budidaya perikanan maupun sebagai konsumsi manusia. jadikan untuk budidaya perikanan.














DAFTAR PUSTAKA

Dian Rahayu Jati, Ulli Kadaria, Ponti Astika., Pengaruh Kadar Merkuri Terhadap Air Permukaan Dan Akumulasi Pada Ikan Baung (Mystus Nemurus) Di Sungai Tebaung Kapuas Hulu.SEMINAR NASIONAL PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI 2017
Kenichi Prabowo Santosa, Pengaruh Kualitas Air Terhadap Pencemaran Oleh Merkuri Pada Tambang Emas., Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan Dan Ilmu KelautanUniversitas Diponegoro Semarang2014
 Ricardo A. Pelaksanaan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Sebagai Akibat Pertambangan Emas Ilegal Di Sungai Menyuke Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. JURNAL UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA FAKULTAS HUKUM 2016


Komentar